Tag Archives: Mitigasi bencana

BAGAIMANA ICZM MEMITIGASI BENCANA DAN PENANGANAN SAMPAH PESISIR KABUPATEN SERANG

Elang Setia Pratama, Dedy Rizaldi, Adiwira Surya Susanto, Tyas Naufal Hilmy*), Pratikto WA, Mustain M **), Suwardi***)

ICZM dasar bagi pengembangan pesisir

Pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir merupakan usaha dan kinerja yang membutuhkan perencanaan dan ilmu yang matang untuk dapat mengeksekusi hal tersebut menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat. Wilayah pesisir memiliki banyak komponen yang harus dipertimbangkan, mulai dari kondisi sosial masyarakat, sumber daya, lingkungan fisik perairan, ancaman bencana, hingga perawatan dan pengembangan yang berkelanjutan serta ramah lingkungan. Ilmu pengelolaan wilayah pesisir tersebut dapat kita kenal dengan istilah yang dikenal di dunia internasional, yaitu Integrated Coastal Zone Management (ICZM).

ICZM memiliki dasar untuk menciptakan pengembangan wilayah pesisir dengan prinsip sustainable development dan ramah lingkungan dalam proses pengembangannya. ICZM penting bagi Indonesia yang memiliki luas wilayah lautan sebesar 3,25 juta km2 dan 2,55 juta km2 sebagai zona wilayah ekonomi ekslusif (ZEE). Indonesia juga memiliki wilayah konservasi perairan sebesar 23,14 juta hektar yang dapat dikembangkan dengan metode ICZM (KKP, 2020).

Pemerintah memiliki fungsi menentukan arah dan visi pembangunan maritim untuk negara Indonesia. Visi pembangunan ini penting untuk menentukan kebijakan serta peraturan yang mendukung pembangunan berskala panjang dan tetap memperhatikan prinsip sustainable development. Pemerintah juga memegang peranan penting untuk menciptakan peraturan-peraturan untuk mengontrol dan menjaga pemanfaatan sumber daya pesisir dari oknum yang ingin merusak dan mengeksploitasi sumber daya alam tersebut, misalnya peraturan yang telah ada dalam pengelolaan wilayah pesisir adalah UU 27 Tahun 2007.

Masyarakat pesisir merupakan komponen yang bersentuhan langsung dengan wilayah pesisir. Dengan potensi hasil tangkapan laut yang besar, kondisi masyarakat pesisir di Indonesia pada umumnya berbanding terbalik. Kualitas sumber daya manusia nelayan di sebagian besar masyarakat pesisir juga masih jauh dibawah rata-rata standard yang diterapkan pemerintah, yaitu pendidikan hingga setara sekolah menengah keatas (SMA). Peralatan serta fasilitas yang dipakai juga hanya mampu untuk menangkap ikan dalam skala kecil.

Peningkatan kualitas sumber daya alam bagi masyarakat pesisir harus menjadi prioritas karena ujung tombak ekonomi kelautan ada di tangan mereka. Sesuai dengan dasar ICZM, sumber daya manusia pesisir memegang peranan penting untuk mewujudkan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

Sinergi antara masyarakat dan pemerintah akan menjadi solusi utama untuk mewujudkan wilayah pesisir terpadu dan sejahtera. Dengan potensi kelautan Indonesia, bukan tidak mungkin bahwa masyarakat nelayan harusnya memiliki pendapatan di atas UMR dan dapat hidup sejahtera dengan bergantung pada hasil tangkapan laut. Pemerintah juga harus mengawasi dan membantu nelayan lokal dari ancaman kapal-kapal asing yang kerap kali melakukan illegal fishing di wilayah tangkapan ikan.

Selain pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut untuk mensejahterakan masyarakat pesisir, ICZM juga mempertimbangkan kerentanan bencana pesisir dalam pembangunan pesisir. Bencana tersebut bisa bersumber dari alam, non alam maupun sosial.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain kegagalan teknologi, kegagalan moderenisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan manusia meliputi konflik sosial.

Kabupaten Serang dalam bingkai bencana

Kabupaten Serang, sebagai kabupaten pesisir di Provinsi Banten, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir sering mengalami beberapa kejadian bencana alam seperti banjir, gempa bumi, karhutla, kekeringan, angin puting beliung, dan tanah longsor, dimana bencana alam yang dominan terjadi adalah bencana angin puting beliung (https://dibi.bnpb.go.id).

Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) dalam rentang tahun 2012-2022, Kabupaten Serang mengalami berbagai bencana alam sebanyak 264 kali. Bencana alam tersebut di dominasi oleh angin puting beliung sebanyak 114 kali atau 10 kali dalam setahun dan banjir sebanyak 87 kali atau 8 kali dalam setahun.

Dari dapak bencana tersebut, angka kematian berada di angka nol atau tidak ada korban meninggal pada rentang tahun 2012 sampai dengan 2022, sedangkan korban menderita mencapai angka 111.607 korban atau 10.146 korban setiap tahunnya dengan angka tertinggi mencapai 64.461 korban pada banjir ditahun 2020.

Gambar 5. Peta Kerentanan Kabupaten Serang
Angka kerusakan rumah akibat bencana alam di Kabupaten Serang dalam rentang 2012 sampai dengan 2022 adalah 1641 rumah atau 150 rumah pertahunnya, dengan angka tertinggi terjadi pada bencana angin puting beliung di tahun 2012 sebanyak 437 rumah.

Menurut data INArisk BNPB, Kabupaten Serang memiliki indeks kerentanan 0,6 sampai 1,0 berdasarkan Gambar 4. Angka tersebut merupakan angka tertinggi dalam indeks kerentanan. Menurut peta analisis kerentanan ini, kerugian fisik akibat bencana banjir dan angin puting beliung adalah Rp. 3,3 M untuk banjir dan Rp. 12,6 M untuk angin puting beliung, untuk kerugian ekonomi Rp. 2,7 M untuk banjir dan Rp. 4,8 M untuk angin puting beliung, kerugian lingkungan mencapai 209 Ha untuk banjir.

Peta Kerentanan Pesisir Kabupaten Serang

Mitigasi bencana

Berdasarkan data bencana alam yang sering terjadi di Kabupaten Serang dalam waktu sepuluh tahun terakhir maka dapat dilakukan upaya mitigasi bencana. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah memperlebar drainase yang ada di titik banjir, membersihkan drainase dari sampah, membangun parit-parit baru untuk daerah rawan banjir, dan penguatan struktur rumah warga dengan memperhatikan faktor keselamatan dan faktor lingkungan.

INArisk merekomendasikan kebijakan dengan prioritas tiga dan prioritas empat. Prioritas tiga sendiri adalah pengembangan sistem informasi, diklat, dan logistik yang mencakup penerapan dan peningkatan fungsi informasi kebencanaan daerah, membangun partisipasi aktif masyarakat untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di lingkungannya, dan penyusunan kajian kebutuhan peralatan dan logistik kebencanaan Daerah.

Prioritas empat adalah penanganan tematik Kawasan rawan bencana yang mencakup Pengurangan Frekuensi dan Dampak Bencana Banjir melalui Penerapan Sumur Resapan dan Biopori, Pengurangan Frekuensi dan Dampak Bencana Banjir melalui Perlindungan Daerah Tangkapan Air, dan Penegakan Hukum untuk pelanggaran penerapan IMB khususnya bangunan tahan gempabumi.

Problem dan penanganan sampah

Kabupaten Serang juga terdapat masalah lain yaitu penanganan sampah domestik. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang memperkirakan volume sampah di Kabupaten Serang dengan asumsi jumlah penduduk Kabupaten Serang sebanyak 1.524.000 jiwa, jika 1 orang menghasilkan sampah 0,5 kg per hari, maka setiap harinya diperkirakan mencapai 762 ton. Namun kuota sampah yang dapat terangkut ke TPA Cilowong baru 80 – 100 ton per hari. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Banten tahun 2015, jumlah sampah rumah tangga Kabupaten Serang mencapai 567,742 ton/hari.

Sesuai data DLH Kabupaten Serang, pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Selain itu metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, di antaranya tipe zat sampah, lahan yang digunakan untuk mengolah, dan ketersediaan lahan.

Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan tujuan, pertama, mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis atau pemanfaatan sampah, kedua, mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.

Proses pertama dapat dilakukan melalui pemilahan sampah yang masih memiliki nilai secara materiil untuk digunakan kembali (reuse). Sementara proses kedua dapat dilakukan antara lain dengan daur ulang (recycle), dapat dengan mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil energi dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik.

DLH Kabupaten Serang saat ini menangani masalah sampah dengan memilah dahulu sampah berdasarakan jenisnya serta memisahkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis setelah itu dilakukan 3R yaitu Reuse, Reduce, Recycle. Untuk proses ini DLH Kabupaten Serang berencana untuk membuat SPA (stasiun peralihan antara) sampah di 4 zona (barat, utara, timur dan selatan), yaitu upaya penanganan dan pengurangan sampah, yang nantinya dalam proses pengelolaan SPA tersebut ada kegiatan pemilahan, incinerator berbasis hidro, reuse dan recycle. Saat ini baru terealisasi penyediaan lahan SPA di dua zona (Utara dan Timur).

Upaya yang tak kalah penting adalah sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan sampah, serta pemasyarakatan pembentukan bank-bank sampah di sekolah-sekolah dan lingkungan masyarakat guna membiasakan diri memilah sampah mulai dari sumbernya, rumah dan sekolah.

  • *) Mahasiswa S1 Teknik Kelautan FTK ITS
  • **) Dosen Teknik Kelautan FTK ITS
  • ***) BPSPL Denpasar

ICZM DALAM PENGEMBANGAN WISATA BAHARI BERKELANJUTAN DI NUSA PENIDA

Haarits Rayhan, Muhammad Anugerah Pragnyono, Dion Presetyo Sondakh, Selly Nurul Hikmayanti, Nurul Karunia (Teknik Kelautan FTK ITS)

Indonesia merupakan negara yang memiliki 16.771 pulau, dengan letak yang berbeda-beda setiap pulau ini maka akan berbeda pula kondisi alam yang ada. Selain itu Indonesia juga merupakan negara yang tergolong rawan terhadap kejadian bencana alam, hal tersebut dikarenakan letak geografis Indonesia yang berlokasi di antara dua samudera besar dan terletak di wilayah lempeng tektonik. Akibatnya Indonesia juga masuk dalam wilayah cincin api (ring of fire), yang berarti Indonesia rawan terkena gempa bumi dan dapat menimbulkan tsunami.

Dengan banyaknya pulau yang dimiliki Indonesia, maka pastinya banyak wilayah pulau dan peisisir yang dapat dimanfaatkan, namun diperlukan pengelolaan yang tepat untuk pemanfaatan wilayah pesisir ini agar tidak menjadi bencana bagi masyarakat setempat.

Salah satu wilayah yang dapat dikelola oleh pemerintah serta memiliki daya tarik yang cukup memikat pengunjung adalah Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, yang merupakan kepulauan yang berada di Selatan Bali yang memiliki banyak kekayaan alam. Kecamatan Nusa Penida memiliki tiga pulau utama yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan yang semuanya dikelilingi oleh terumbu karang tepi (fringing reef) dengan luas 1600 hektar.

Kecamatan Nusa Penida terdiri dari tiga kepulauan yaitu pulau Nusa Penida, Pulau Lembongan dan Pulau Ceningan, terdiri dari 16 Desa Dinas, Dengan Jumlah Penduduk 46,749 Jiwa (8.543 KK). Pulau Nusa Penida bisa ditempuh dari empat tempat yaitu lewat Benoa dengan menumpang Quiksilver/Balihai ditempuh +1 jam perjalanan.

Secara umum kondisi Topografi Nusa Penida tergolong landai sampai berbukit. Desa – desa pesisir di sepanjang pantai bagian utara berupa lahan datar dengan kemiringan 0 – 3 % dari ketinggian lahan 0 – 268 m dpl. Seeta semakin ke selatan kemiringan lerengnya semakin bergelombang.

Pesona Alam Nusa Penida

Di Nusa Penida terdapat 230,07 hektar hutan mangrove yang mayoritas berada di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Berdasarkan hasil survey dan identifikasi mangrove kerjasama antara TNC Indonesia Marine Program dan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove wilayah I pada bulan Februari 2010 di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, terdapat 13 jenis mangrove dan 7 jenis tumbuhan asosiasi. Selain itu juga dijumpai 5 jenis burung air dan 25 jenis burung darat yang dijumpai di sekitar hutan mangrove.

Hutan mangrove di Nusa Lembongan

Selain itu terdapat pula Padang Lamun, Padang Lamun di Nusa Penida seluas 108 hektar. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh TNC dan Universitas Udayana dijumpai sekitar 8 jenis lamun di Nusa Penida. Mayoritas Padang Lamun tumbuh di perairan dangkal dan berasosiasi dengan budidaya rumput laut. Rumput laut merupakan salah satu andalan produksi perikanan bagi masyarakat Nusa Penida, khususnya untuk jenis euchema spinossum.

Kawasan budidaya rumput laut di area lamun pesisir Nusa Lembongan

Ekosistem lainnya adalah terumbu karang. Hasil pemetaan terumbu karang yang dilakukan oleh TNC dengan menggunakan data satelit dari sumber Damaris (Citra Satelit) dan ground truth check di 13 titik, menunjukan luas total terumbu karang Nusa Penida adalah sekitar 1.419 hektar.

Di Nusa Penida juga dijumpai ikan Mola mola (Sunfish) yang menjadi icon bawah laut Nusa Penida, bahkan pulau Bali. Ikan Mola mola ini memiliki ukuran rata-rata 2 meter dan muncul di perairan Nusa Penida sekitar bulan Juli – September untuk membersihkan dirinya dari berbagai parasit dengan bantuan ikan-ikan karang, sekaligus berjemur untuk mendapatkan sinar matahari guna menyesuaikan suhu tubuh dikarenakan berada di perairan dalam cukup lama. Terdapat beberapa lokasi “cleaning station” ikan Mola mola di perairan Nusa Penida.

Selain Ikan Mola mola, juga ditemukan 576 jenis ikan di perairan Nusa Penida dimana diantaranya spesies baru yang belum pernah dijumpai dimanapun di dunia. Antara lain, Pari, Penyu, Dugong (Duyung), Lumba-Lumba dan Paus. (Kajian Ekologi Laut secara cepat – Rapid Ecology Assesment (REA) pada tahun 2008 oleh Gerry Allen dan Mark Erdmann).

Wisata Bahari Nusa Penida

Kekayaan hayati laut Nusa Penida diatas membawa banyak manfaat bagi masyarakat terutama dari sektor pariwisata bahari, perikanan dan perlindungan pantai. Terumbu karang yang cantik, ikan pari manta dan Mola mola menjadi atraksi favorit bagi pariwisata bahari di Nusa Penida. Terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun juga merupakan rumah, tempat berkembang-biak, mencari makan dan berlindung bagi ikan-ikan dan biota laut lainnya. Disisi lain, terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun adalah pelindung pantai alami dari gempuran ombak sehingga pantai tidak terabrasi.

ICZM dalam pengembangan wisata bahari

Pengelolaan wilayah pulau Nusa Penida sebagai kawasan ekowisata bahari merupakan suatu komponen yang harus dilakukan guna menjaga agar kawasan tersebut dapat terjaga ekosistemnya . Sehingga perlu dilakukan perencanaan yang matang. Untuk wilayah pesisir metode yang dapat digunakan yaitu ICZM (integrated coastal zone management) yang merupakan suatu pendekatan yang komprehensif yang dikenal dalam pengelolaan wilayah pesisir, berupa kebijakan yang terdiri dari kerangka kelembagaan dan kewenangan hukum yang diperlukan dalam pembangunan dan perencanaan pengelolaan untuk kawasan pesisir yang terpadu dengan tujuan lingkungan hidup dan melibatkan seluruh sektor yang terkait.

Tujuan dari ICZM adalah untuk memaksimalkan potensi keuntungan yang diperoleh dari kawasan pesisir dan meminimalkan dampak negatif dalam pengelolaan kawasan pesisir, baik pada sumber daya alam maupun terhadap lingkungan hidup.

Salah satu upaya yang cukup efektif untuk mengatasi ancaman terhadap sumberdaya hayati laut yaitu dengan pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP). Dalam pengelolaan kawasa konservasi perairan ini sangat diperlukan dukungan masyarakat, termasuk integrasi hukum adat yang dipertegas oleh para tokoh masyarakat agar dapat menjadi sebuah mental block dengan harapan tidak melakukan kerusakan pada lingkungan di pesisir dan laut daerah Nusa Penida.

Kawasan Konservasi Nusa Penida

Selain itu dalam pengelolaan wilayah Nusa Penida juga mempertimbangkan risiko bencana yang kemungkinan terjadi, karwna wilayah ini dilalui Ring Of Fire.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif/kerusakan yang mungkin terjadi dari bahaya yang mungkin terjadi, misalnya tsunami, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menanam mangrove secara massive disepanjang pantai Nusa Penida. Pengaturan moratorium dan konservasi hutan mangrove sangat berguna sebagai mitigasi bencana, karena mangrove akan mampu mengurangi dampak terjangan tsunami ke daratan dan pemukiman penduduk, dan fasilitas publik dalam menunjang wisata bahari yang telah dibangun, seperti dermaga dan resort yang telah diinvestasikan di wilayah Nusa Penida.

DAMPAK RING OF FIRE PADA PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR BANTUL DIY

Mevlevi Haydar As Shafa, Gede Manik Aryadatta Narendra,Zein Afandi, I Putu Crisna Putra Ardhika, Athif Izza Maula (Teknik Kelautan FTK ITS)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang secara geografis terletak pada zona gugusan
gunung berapi atau Ring Of Fire, zona ini memberikan pengaruh besar terhadap gempa, yaitu hampir 90% dari kejadian gempa di bumi dan semuanya merupakan gempa dengan skala
yang besar di dunia (Kramer, 1996). Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat rawan bencana terutama gempa bumi baik itu secara tektonik maupun vulkanis.
Gempa bumi juga dapat menimbulkan bencana lain salah satunya yang paling besar adalah tsunami. Gempa bumi bila disertai tsunami dapat menjadi bencana yang besar dan mematikan (Prasetya dkk., 2006).

Di kawasan wilayah Indonesia terdapat beberapa lokasi yang termasuk daerah rawan gelombang tsunami secara alamiah yaitu pada wilayah pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal tersebut disebabkan karena di daerah tersebut merupakan tempat bertemunya Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia (Cahanar, 2005).

Di Pulau Jawa, Kabupaten Bantul yang menjadi sorotan untuk dilakukannya perlindungan terhadap gelombang tsunami dikarenakan daerah tersebut masuk ke dalam zona cincin api
(Ring of Fire) (Harahap, 1999).

Ancaman Bencana dan Potensi Wisata Pesisir Bantul

Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah administrasi di Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, Jawa tengah yang secara spesifik berada di bagian selatan Pulau Jawa. Kondisi
geografis yang berada di jalur selatan Pulau Jawa dengan pergerakan lempeng yang cukup impulsif dan berada persis di hamparan Samudera Hindia menjadikan Bantul sebagai daerah yang rawan akan gelombang tsunami.

Di luar kondisi tersebut, hamparan laut yang begitu indah menjadikan Bantul pusat wisata
yang menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi
daerah tersebut. Hal tersebut menjadi alasan perlu adanya analisa dalam menentukan potensi
ancaman gelombang tsunami di daerah tersebut.

Di pesisir Kabupaten Bantul terdapat kawasan wisata pantai selatan yang terkenal akan
keindahannya. Pantai selatan Bantul membentang sepanjang kurang lebih 13 kilometer dari Pantai Parangtritis sampai Pantai Baru, deretan pantai tersebut terkenal akan pasir hitam dan keindahan sunset yang sangat indah dengan Pohon Cemara di sekitar area bibir pantai.

Pemandangan salah satu sisi pesisir Kabupaten Bantul

Rindangnya pepohonan yang tumbuh berjejer di tepi pantai tersebut, menjadikan suasana di
lokasi ini sejuk dan tidak panas ketika siang hari. Hal tersebut dimanfaatkan wisatawan untuk sekedar duduk diatas tikar sembari menikmati keindahan laut, serta menikmati sejuknya hembusan angin di bawah pohon cemara.

Selain itu keberadaan ribuan kincir angin sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH)
di sisi barat pantai menjadi manget bagi lokasi terebut menarik minat wisatawan untuk datang
baik sekedar penasaran maupun menambah pengetahuan. Pemandu wisata juga telah disediakan untuk para wisatawan yang ingin merasakan wisata pendidikan untuk mengetahui
lebih dalam tentang PLTH terbesar di Indonesia ini.

Kerawanan Gelombang Tsunami Pesisir Bantul

Dibalik keindahan panorama di pesisir Bantul yang menawan, terdapat ancaman bahaya yang
cukup serius. Hal ini dikarenakan lokasi Kabupaten bantul yang berada kawasan Ring of Fire dengan pergerakan lempeng tektonik cukup aktif di wilayah selatan Pulau Jawa yaitu
bertemunya lempeng Indo – Australia dan lempeng Eurasia. Dampak dari pergerakan aktif
lempeng tersebut akan mengakibatkan gempa tektonik dan memungkinkan terjadinya tunami apabila terdapat gempa tektonik dengan skala besar.

Besar kecilnya kerawanan gelombang tsunami tergantung pada besarnya ketinggian gelombang tsunami, keadaan topografi pantai dan daratan.

Beberapa parameter yang mempengaruhi kerawanan gelombang tsunami di pesisir Bantul meliputi elevasi daratan, slope, jarak dari garis pantai, dan jarak sungai.

Wilayah pantai selatan yang memiliki elevasi rendah membuat tingkat kerawanan gelombang
tsunami di daerah ini lebih tinggi ditambah keberadaan aliran sungai menyebabkan gelombang tsunami dapat menggerus apapun yang dilaluinya. Tinggi rendahnya elevasi suatu
wilayah tersebut mempengaruhi tingkat kerawanan terhadap gelombang tsunami yang terjadi.

Gelombang tsunami memiliki sifat merusak, sehingga dalam penataan ruang harus memiliki
kawasan penyangga. Penentuan wilayah dari garis pantai merupakan parameter yang cukup
penting. Oleh karena itu, dalam suatu analisis kerawanan gelombang tsunami perlu menentukan jarak dari garis pantai. Semakin pendek jarak dengan pantai mengindikasikan
rendahnya kerawanan terhadap gelombang tsunami, begitu sebaliknya.

Daerah pesisir Bantul memiliki jarak sungai yang berjauhan. Letak sungai yang berdekatan
satu sama lain menyebabkan limpasan gelombang tsunami ke daratan akan menimbulkan kerusakan yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan adanya akumulasi energi gelombang tsunami dan massa air. Oleh karena itu, apabila ingin membangun bangunan untuk kepentingan perumahan, perindustrian, maupun perekonomian, sebaiknya dilakukan pada daerah yang berjarak < 250 m dari sungai yang bertujuan untuk meminimalisir kerugian yang cukup tinggi.

ICZM sebagai Konsep Mitigasi Bencana

Menyadari potensi bencana alam gampa bumi dan tsunami di wilayah pesisir Bantul dan untuk mengurangi dampak bencana di masa depan, hal ini diperlukan upaya mitigasi bencana yang lebih komprehensif baik melalui pendekatan non – struktural maupun melalui pendekatan struktural. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan konsep Integrated Coastal Zone Management (ICZM).

Dengan konsep ICZM, penyelenggaraan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau – pulau kecil tidak terlepas dari aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, kelestarian lingkungan hidup, kemanfaatan dan efektivitas, serta lingkup luas wilayah. Sehingga upaya mitigasi bencana akan menguntungkan dari segi lingkungan dan juga masyarakat.

Strategi atau upaya mitigasi bencana alam gempa bumi dan tsunami dengan penerapan konsep ICZM yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat pesisir Kabupaten Bantul antara lain adalah upaya mereduksi dampak negatif jika terjadi bencana gempa bumi yaitu mikrozoning analisis kerawanan dan analisa resiko. Pengkajian mikrozoning dapat meliputi kajian tentang karakteristik bencana, frekuensi, waktu dan periode berlangsungnya bencana. Hasil kajian berupa data dan informasi potensi kebencanaan nantinya dipakai dalam melakukan analisis kerawanan dan resiko di wilayah pesisir Kabupaten Bantul.

Analisis kerawanan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi mana saja yang rawan, sekaligus memberikan skenario penanggulangan apabila terjadi bencana. Sedangkan analisa resiko
bencana bertujuan untuk memberikan informasi yang rinci dan jelas tentang karakteristik bencana serta resiko yang akan dihadapi. Dengan mengetahui dua hal tersebut, aparat maupun masyarakat dapat melakukan langkah-langkah perencanaan dan kesiapsiagaan yang efisien dan efektif.

Strategi mitigasi bencana lainnya adalah upaya mereduksi dampak tsunami, yaitu dapat dilakukan melalui penyediaan sistem peringatan dini (early warning system) yang secara cepat mampu membaca kenaikan gelombang laut tiba-tiba yang disebabkan oleh gempa bumi. Upaya lainnya yang bisa dilakukan adalah penggunaan bangunan peredam tsunami seperti dike (tanggul)
atau breakwater (pemecah ombak).

Strategi mitigasi bencana lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan kebijakan rumah penduduk harus memiliki struktur kuat sehingga tahan terhadap guncangan gempa dan tsunami serta arah orientasi bangunan tegak lurus dengan garis pantai sehingga sejajar dengan arah perambatan gelombang tsunami.

Konsep ICZM dalam pengelolaan wilayah pesisir berbasis mitigasi bencana pada dasarnya bertujuan untuk mendayagunakan potensi pesisir dan laut untuk meningkatkan kontribusi terhadap
pembangunan ekonomi nasional, kesejahteraan pelaku pembangunan kelautan khususnya, dan untuk tetap menjaga kelestarian sumber daya kelautan khususnya sumber daya alam serta dapat meminimalisir adanya kerugian harta benda maupun nyawa manusia jika terjadi bencana pesisir.

PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR LARANTUKA

Elang Setia Pratama, Dedy Rizaldy, Adiwira Surya Susanto, Tyas Naufal Hilmy (Mahasiswa Teknik Kelautan FTK ITS)

Indonesia, dengan luas wilayah perairan laut mencapai 6,4 juta km² atau sekitar tiga kali lipat dari luas wilayah daratannya, total panjang garis pantai mencapai 108.000,00 km (KKP,2019) memiliki peluang dan tantangan pengembangan dalam segi ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan dalam mengelola wilayah pesisir dan pantainya. Potensi sumber daya alam, perikanan dan pariwisata menjadi potensi terbesar dalam mengembangkan wilayah pesisir tersebut.

Selain keunikan ini, Indonesia juga termasuk dari beberapa negara di dunia yang berada dalam pada Cincin Api Pasifik atau biasa dikenal dengan Ring of Fire. Cincin Api Pasifik adalah daerah dengan rangkaian gunung berapi aktif yang tersebar dari Selandia Baru hingga ke Amerika Selatan dan melintasi berbagai negara, termasuk di Indonesia. Keberadaan Indonesia di Cincin Api Pasifik ini secara geologis membuat Indonesia memiliki cukup banyak gunung berapi yang masih aktif. Indonesia memiliki 127 gunung berapi dan terdapat 69 gunung berapi aktif (PVMBG, 2021).

Dengan fakta geografis dan geologis tersebut, banyak wilayah pesisir Indonesia menyimpan potensi sumber daya mineral, pariwisata, dan material, salah satunya adalah pesisir Larantuka, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Saat ini potensi yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah daerah adalah dengan tingkat pembangunan infrastruktur yang minim dan kondisi kesejahteraan masyarakatnya yang berbeda dengan mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. Pesisir Larantuka apabila
dimanfaatkan potensinya secara optimal dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir di sana dan dapat meningkatkan devisa negara di Indonesia lewat potensi sumber daya alam dan perikanan dan menarik minat investor.

Pola pemanfaatan lahan di Larantuka

Perikanan Larantuka

Potensi sumber daya alam yang dapat
diperbarui (renewable resource) cukup beragam, salah satunya sumber daya perikanan, karena memiliki variasi jenis ikan yang banyak seperti Ikan Pelagis (Tuna, Cakalang, Tenggiri, Tongkol, Layar, Kombong, Tembang, Sardin, Teri, dll) dan Ikan karang/demersal (Kerapu, Kakap, dll).

Nelayan biasanya memanfaatkan semua jenis ikan yang bisa mereka tangkap. Mayoritas nelayan tradisional yang mempunyai armada sederhana biasanya memprioritaskan tangkapan ikan karang/demersal karena beroperasi di sekitar terumbu karang tidak jauh dari desa mereka. Hasil perikanan tangkapan nelayan biasanya dipasarkan ke beberapa tempat
meliputi perusahaan perikanan, pengumpul/papalele, Pasar Larantuka, dan konsumen langsung. Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Flores Timur pada tahun 2013 Kecamatan Larantuka dapat menghasilkan perikanan laut sekitar 4043 Ton.

Ekowisata Mangrove Larantuka

Kecamatan Larantuka juga memiliki potensi pada tanaman mangrovenya. Tanaman bakau atau mangrove di kawasan pesisir sangat berguna karena dapat menangkal erosi gelombang terhadap garis pantai yang dimana terdapat pemukiman masyarakat nelayan, dan juga kayu-kayu tanaman mangrove yang sudah mengering dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Potensi lainnya adalah dapat dijadikan destinasi objek wisata khususnya ekowisata yang menawarkan konsep pendidikan dan konservasi.

Ekowisata menjadi salah satu pilihan yang dapat mempromosikan lingkungan yang khas dan tetap terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata. Lebih jauh lagi pada kawasan mangrove, dengan estetika wilayah pantai yang mempunyai berjuta tumbuhan dan hewan unik akan menjadikan kawasan ini potensial bagi pengembangan konsep ekowisata. Kondisi mangrove yang sangat unik dengan potensi sumberdaya alam berupa bentang alam, flora, fauna dan kegiatan sosial ekonomi sebagai objek dan daya tarik ekowisata. Selain itu juga dapat sebagai model wilayah yang dapat dikembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisme yang hidup disana. Dengan pengembangan terpadu, maka peluang mengoptimalkan nilai ekonomis, ekologis dan pendidikan pada kawasan hutan mangrove sangat besar.


Energi Laut Larantuka

Energi laut merupakan bentuk energi terbarukan
yang dapat dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya laut, meliputi energi gelombang, energi
pasang surut, energi arus laut, dan energi termal laut. Secara teknis, energi laut merupakan
energi yang dihasilkan dari energi kinetik pergerakan air laut, energi potensial dari perbedaan ketinggian muka air laut dan perbedaan dari temperatur air laut.

Berdasarkan hasil sebuah penelitian, Selat Larantuka memiliki arus laut yang sangat kuat untuk dikembangkan sebagai sumber tenaga listrik, yaitu terendah 0,004 m/detik dan tertinggi 3,68 m/detik (Yuningsih, 2009). Kecepatan arus di daerah Selat Larantuka tersebut memenuhi syarat sebagai pembangkit listrik tenaga arus karena area yang paling potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut yang disarankan Marine Current Turbine Ltd. adalah yang mempunyai nilai kecepatan minimum 2 m/s – 2.5 m/s (Gordon, 2003; Fraenkel, 1999).

Potensi arus di Selat Larantuka telah dilakukan penelitian dengan menggunakan Turbin
pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL), jenis turbin yang dipasang adalah turbin poros vertikal tipe Darrieus berbilah turbin lurus. Dengan diameter putarnya 2 m dan panjang bilah
2 m, dengan efisiensi total 35%, turbin tersebut dapat menghasilkan listrik 2 kW pada kecepatan arus 1.4 m/detik. Pada uji coba pertamanya, PLTAL dapat menghasilkan listrik berfluktuasi antara 900–2000 W (Erwandi, 2010). Hasil uji coba tersebut, menunjukkan bahwa Selat Larantuka memiliki potensi yang besar dalam energi listrik arus laut. Uji coba tersebut seharusnya dapat ditindaklanjuti dengan melakukan pengujian lanjutan untuk mendapatkan nilai yang ekonomis sehingga energi listrik yang dihasilkan dapat menjadi solusi untuk memasok listrik di Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Keuntungan penggunaan energi arus laut yaitu ramah lingkungan karena arus laut termasuk sumberdaya alam terbarukan, selain itu karena densitas air laut lebih besar yaitu 800 kali densitas udara maka untuk menghasilkan daya energi yang sama ukuran diameter turbin energi arus laut akan jauh lebih kecil dari turbin angin, sehingga tidak memerlukan lahan yang luas seperti turbin angin. Selain itu juga, turbin arus laut juga tidak memerlukan perancangan untuk
kondisi atmosfer yang ekstrim seperti turbin angin karena keadaan di bawah air relatif konstan.

Secara umum, kekurangan dari energi arus laut ini adalah membutuhkan biaya yang cukup
besar, lalu kekurangan yang lainnya lagi masih banyak energi arus laut ini hanya sekedar
penelitian belum di implementasikan secara serius di Indonesia.

Mitigasi Bencana dengan Pendekatan ICZM

Larantuka sebagai ibukota dari Kabupaten Flores Timur, yang berada didalam jalur daerah gunung berapi di Indonesia, dan memiliki 4 (empat) gunung berapi yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki 1.584 Mdpl, Gunung Lewotobi Perempuan 1.703 Mdpl, Gunung Leraboleng 1.117 Mdpl serta Gunung Boleng 1.659 Mdpl, akan mempunyai bahaya/ancaman bencana lebih besar.

Selain ancaman dampak langsung erupsi gunung berapi diatas, juga terdapat ancaman gelombang tsunami, sehingga dari segi penanggulangan bencana harus dikelola dengan baik dan benar supaya meminimalisirkan dampak kerusakan yang terjadi.

Gambaran mitigasi bencana dalam pendekatan ICZM

Kebijakan dalam pengelolaan pesisir dan pulau kecil menjadi kerangka konseptual untuk mengurangi dampak akibat bencana pada wilayah pesisir tersebut. Dengan adanya mitigasi bencana yang berupa pengenalan serta adaptasi bahaya alam maupun buatan manusia. Sekaligus menghilangkan resiko jangka pendek, menengah, hingga panjang.